Wednesday, October 22, 2008

A Review by Buddy Ace

Buddy Ace adalah seorang Chief Editor of KORAN SLANK, Promotions Manager of KALUKU RECORDS dan Host Warung Slankers TVRI and File Musik Indonesia TVRI, sekaligus merupakan seorang teman yang kritik dan comment2nya selalu bersifat membangun. Berikut reviewnya.

SOULNATION - Day #1, 17 Oktober - 19:00 WIB

Performer: YACKO

YACKO: "The POwer of HIp Hop for The Girl Power"

Dari segenap performer di ‘Soulnation 2008’ hari pertama, saya mencatat jika Yacko merupakan salah satu penampil yang all out baik secara musical maupun secara performances.

Dalam konteks festival dimana ada 6 titik panggung, maka “panggung” Yacko dapat disebut sebagai panggung full power. Ia dan tulang punggungnya (player, dj dan back vox) mampu menyedot perhatian komunitas Hip Hop untuk menyaksikan perempuan berijazah S2 ini, menyuarakan sikapnya tentang sebuah kemandirian perempuan Indonesia bernama ‘Girl Power’.

Saat menyaksikan penampilan Yacko, aku beruntung bisa berdiri persis ditengah area (ini udah jadi kebiasaan untuk menikmati suguhan musikal, kerna bis amendapatkan sound yang balanced).

Lebih dari sekadar sound yang balanced itu, aku beruntung kerna bisa nonton bareng Ibu Rene, yang tak lain adalah Ibu Kandung yang membesarkan Yacko, putri satu-satunya.

"Yacko sangat mandiri sejak kecil. Sebagai single parents aku memang sengaja mendidiknya agar tidak menjadi perempuan manja yang hanya bergantung pada ibunya. Alhamdulillah, selain bisa menyelesaikan sekolahnya di Australia, kini ia bisa mengajar, menyiar dan menyanyi," ungkap Ibu Rene sembari bergoyang mengikuti senandung Yacko dalam lagu 'Girl Power'. Hmmm... Yacko pun menularkan Hip Hop ke ibunya.

Dari ungkapan itulah saya ingin mengatakan betapa sebuah karya musikal yang baik adalah karya yang lahir dari kesadaran seniman atas kultur yang melekat dalam darahnya. Dalam istilah physikologis; ada 'calling', yang tumbuh dalam sanubari setiap orang.

Dalam konteks berksenian, 'calling' dalam diri para seniman, berbuah karya musik dan misi yang ingin disampaikan lewat pilihan musikalnya. Dan Yacko memilih Hip Hop. Meski pada awalnya sebatas pada 'cara' dan 'gaya' semata, namun, setidaknya pada hari pertama 'Soulnation 2008' itu, Yacko menggenapkan antara 'cara' dan 'gaya' padu-padan dengan 'misi' yang diembannya.

Saya cukup menangkap satu misi penting, yakni; 'Spirit Girl Power'.

Sebuah 'alter ego' yang sejatinya memang harus dimiliki oleh setiap seniman. Bahwa, bermusik bukanlah sekadar menghibur diri dan orang lain semata, tapi lebih pada membumikan 'alter ego' yang dikalangan awam terpendam sebagai obsesi semata, namun dalam diri seniman, alter ego bisa berubah menjadi inspirasi dan motivasi bagi masyarakat luas.

"Gue juga pengen release album under alter ego gue sebelum rilis album ketiga. Gue punya satu alter ego yang bernama 'side'. Digambarkan di sini sebagai seekor penguin yang pemarah, full of anger. Loe bisa lihat di www.myspace.com/sidereacti
on," papar cewek tomboi yang segera melepas masa lajangnya tahun depan dalam sebuha wawancara di media online.

Wow... Yacko bakal "melepas" alter ego-nya, dia kudu berbagi dengan calon suaminya. Dan semoga usai menikah, karya Yacko makin membumi daripada sekadar utopia belaka, seperti kebanyakan lirik lagu dalam "Planet Pop".

Balik ke musikalitas Yacko. Diawal pemunculannya dalam debut album yang melibatkan banyak Hip Hopper Indonesia itu, saya mengajukan sebuah pertanyaan mendasar padanya;

"Apa alasan elo memilih Hip Hop yang lahir dari kultur yang berbeda dengan kultur kita, Indonesia?"

"Saat gw SD kelas VI. Bokap tiri gw dulu hobinya nge-DJ dan dia suka musik-musik hiphop. Jadi, pas dia lagi main, gw suka dengerin. Mulai dari Africa Bambataa sampai Public Enemy, RUN DMC, Queen Latifah, plus dulu, tuh, lagi tren tari kejang. Hehehehe.. gw ngga ikutan sih. Tapi gue suka dengerin musik-musik yang dipakai buat bboying. Dari Curtis Mayfield, Earth Wind and Fire. Gitu deh. Selain itu gue juga suka hunting kaset dan, ya, paling dari radio," urai Yacko, selalu seperti itu dalam setiap wawancara.

Yacko membuktikan, ada kesamaan "kultur" yang dimiliki minoritas Afro-America dan masyarakat berkembang di Asia, termasuk Indonesia. Tak heran jika Hip Hop hari ini, jauh berbeda dibanding awal pemunculan genre pendahulunya di era 70-an, seperti 'Soul' dan 'Rap' di era 80-an.

Kesamaan "kultur" yang dimaksud adalah, kesamaan persepsi masyarakat di negara berkembang yang masih berjuang dan terus memperjuangkan hak-haknya yang belum terakomodasi, seperti Hak Politik Perempuan, yang di tanah air baru mendapat kuota sebesar 30%. Dan sejuta hak azasi manusia yang paling mendasar lainnya yang belum terpenuhi secara esensial.

Dan Yacko, pun menyuarakannya lewat Hip Hop.

Pertanyaannya kemudian, adakah Yacko berhasil menjadikan Hip Hop sebagai media penyampai pesannya yang efektif?

Jika melihat reportoarnya malam itu, selain sangat menghibur, Yacko berhasil meramu enerji kreatif mereka dan menghipnotis penontonnya, dengan repetan yang padat berisi. Tak sekadar merangkai lirik indah tapi juga sebuat repetan yang bernas dan bergizi.

Kalo ada warning notes buat Yacko atas penampilannya, adalah upayanya untuk mengajak setiap penonton bernyanyi dalam setiap lagu. Memang tak selalu berhasil, apalagi untuk mengajak mereka nyanyi di setiap lagu. Cukup sekali duakali, selebihnya biarkan mereka "mati penasaran". Dengan begitu efek positifnya, Yacko menjelma menjadi magnitude yang memiliki kekuatan 'Girl Power', seperti misi yang disenandungkannya.


No comments: